Lorde baru saja tampil di Real Cool Festival di Madrid dan menyempatkan diri menyampaikan kritik terhadap kacamata AI. Dalam sesi panggungnya, penyanyi asal Selandia Baru itu menyebut perangkat tersebut ‘tidak seksi’. Meski tak menyebut merek secara langsung, banyak yang menduga kritiknya ditujukan pada Ray-Ban Meta yang menjadi sponsor acara.
Kacamata pintar ini dilengkapi kamera serta fitur AI yang bisa mengenali objek atau menerjemahkan percakapan secara real-time. Bagi sebagian orang, teknologi semacam ini terlihat futuristis. Namun Lorde justru melihat sisi lain yang kurang menarik, terutama saat digunakan di tengah keramaian festival.
Kritik ini muncul di tengah tren wearable AI yang semakin marak. Perangkat seperti kacamata Ray-Ban Meta dirancang agar terlihat seperti kacamata biasa, sehingga orang di sekitar tidak selalu sadar sedang direkam. Hal ini memicu diskusi tentang privasi di ruang publik, khususnya di acara musik yang padat pengunjung.
Dari sisi pemasaran, kehadiran sponsor teknologi di festival musik memang semakin umum. Brand berharap bisa menjangkau audiens muda yang aktif di media sosial. Namun ketika artis utama menyampaikan ketidaksetujuan secara langsung, strategi ini bisa berbalik menjadi bumerang. Pengunjung festival mungkin mulai mempertanyakan seberapa nyaman mereka dengan perangkat yang terus merekam.
Selain itu, respons Lorde mencerminkan kekhawatiran lebih luas di kalangan seniman terhadap integrasi AI dalam kehidupan sehari-hari. Banyak musisi khawatir teknologi ini bisa mengubah cara orang menikmati momen live tanpa gangguan layar atau perekaman konstan. Mereka ingin pengalaman konser tetap fokus pada musik dan interaksi langsung, bukan pada fitur AI yang berjalan di latar belakang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Meta memang gencar mempromosikan kolaborasi dengan Ray-Ban untuk mendorong adopsi kacamata pintar. Fitur AI-nya terus dikembangkan, mulai dari kemampuan menjawab pertanyaan tentang lingkungan sekitar hingga berbagi foto langsung ke media sosial. Meski begitu, tidak semua kalangan menyambutnya dengan antusias.
Lorde bukan satu-satunya yang mengangkat isu ini. Beberapa pengamat teknologi juga menyoroti potensi penyalahgunaan data visual yang dikumpulkan kacamata tersebut. Tanpa regulasi yang jelas, risiko privasi bisa meningkat seiring semakin banyaknya orang memakai perangkat serupa.
Secara keseluruhan, komentar Lorde menjadi pengingat bahwa penerimaan teknologi tidak selalu mulus. Meski fitur AI menawarkan kemudahan, aspek sosial dan kenyamanan tetap menjadi pertimbangan penting, terutama di ruang publik seperti festival musik.







