Baharuddin Lopa dikenal sebagai Jaksa Agung yang meninggalkan jejak integritas kuat di tengah zaman yang penuh godaan. Alih-alih rumah mewah atau rekening tebal, yang tersisa justru cerita sederhana tentang celengan receh dan kebiasaan menyewa PlayStation.
Di era digital saat ini, cerita seperti ini terasa semakin langka. Banyak pejabat yang terjebak dalam gaya hidup mewah, sementara Lopa justru memilih hidup apa adanya. Celengan recehnya menjadi simbol bahwa ia tidak mengambil lebih dari yang seharusnya.
Rental PlayStation yang ia lakukan juga menunjukkan sisi manusiawi seorang penegak hukum. Di saat anak-anak lain mungkin sudah punya konsol sendiri, keluarga Lopa harus berbagi waktu dengan mesin sewaan. Hal ini menggambarkan bahwa kesederhanaan bukan hanya pilihan, tapi juga cerminan nilai yang ia junjung.
Dari sisi konteks yang lebih luas, integritas Lopa memberikan dampak besar terhadap kepercayaan publik terhadap institusi kejaksaan. Saat banyak kasus korupsi mencoreng wajah penegak hukum, kisahnya menjadi pengingat bahwa jabatan tinggi tidak harus diiringi kekayaan berlebih.
Selain itu, di tengah maraknya teknologi hiburan modern seperti game online dan konsol mahal, cerita rental PlayStation Lopa bisa menjadi bahan refleksi. Ia membuktikan bahwa akses terhadap teknologi tidak perlu berlebihan untuk tetap bahagia dan menjalankan tugas dengan jujur.
Kisah ini juga relevan dengan diskusi tentang etika digital saat ini. Banyak orang tergoda untuk menampilkan kemewahan di media sosial, padahal integritas justru terlihat dari hal-hal kecil seperti celengan receh dan pilihan hiburan yang sederhana.
Lopa meninggalkan pelajaran bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Celengan receh dan rental PlayStation bukan sekadar anekdot, melainkan bukti nyata bahwa integritas bisa bertahan meski di tengah godaan zaman.







